CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Jumat, 16 Januari 2009

His Eyes are Watching Us

LIFE IS PRECIOUS

saat aku meloncat dari gedung....
Saya melihat pasangan yang paling romantis sedang saling memukul di lt.10
Kulihat pasangan yang kutahu saling mencintai di lantai

10 sedang bertengkar dan saling memukul.


Kulihat Peter yang biasanya kuat dan tabah sedang menangis

di lt. 9

Di lt.8 Ah Mei memergoki tunangannya sedang bercinta

dengan sahabatnya


Di lt.7 Dani sedang minum obat anti depresi



Di lt.6 Heng yang pengangguran terus membeli

7 koran untuk mencari lowongan kerja tiap hari

di lt. 5 Mr. Wong yang sangat dihormati

publik sedang mencoba baju dalam istrinya



di lt.4 Rose sedang bertengkar

hebat dengan pacarnya

Di lt. 3 pak tua sedang mengharapkan

seseorang datang mengunjunginya

Di lt.2 Lily sedang memandangi foto suaminya

yang sudah meninggal 6 bulan lalu

Sebelum aku melompat dari gedung,

kupikir aku orang yang paling malang

Sekarang aku sadar bahwa setiap

orang punya masalah dan kekuatirannya sendiri


Setelah kulihat semuanya itu,

aku tersadar bahwa ternyata

keadaanku sebenarnya tidak begitu buruk


Semua orang yang kulihat tadi

sekarang sedang melihat aku...


Kurasa setelah mereka melihatku sekarang,

mungkin mereka merasa bahwa situasi

mereka sama sekali tidak buruk.

" Be grateful for whoever you are....coz if

u compare it to others, u'll be suprised of their secret life "


"Bersyukurlah atas dirimu apa adanya...
karena bila kamu membandingkan dengan orang lain,
kamu akan terkejut dengan rahasia hidup mereka"

Kisah Cinta si Cacat yang Sempurna






Inilah kisah cinta orang cacat yang telah berkeluarga, tapi sang suaminya bisa dikatakan memiliki wajah dan tubuh yang sempurna. Di dunia ini, masih ada rupanya cinta yang sempurna.

Untuk Sahabat2ku, ini sebuah kisah menyentuh hati dalam foto yang nyata. Tuhan itu maha adil dan maha penyayang, Kisah seorang suami istri dalam keluarga yang sangat sederhana, melihat rata2 sosok laki nya itu bisa dinilai seorang pria yang cukup sempurna terutama dalam penampilannya, tapi dia mempunyai seorang istri yang mempunyai kelainan dalam fisiknya, dimana wanita tersebut tidak mempunyai kaki sama sekali total dai ujung kaki hingga ujung paha bahkan wanita itu tidak memiliki sama sekali pinggul (bagian dari pangkal paha hingga batas pinggang),
jadi sulit skali bila duduk karena tida memiliki alas dibawah pinggang tsb., tapi kebesaran Tuhan tentu lain, wanita tersebit memiliki suami yang cukup ganteng, masih muda dan sangat cukup sempurna mau memiliki dan mengasihi seorang wanita yang mempunyai cacat fisik bawaan. mereka sekarang dikaruniai dua orang anak yang sangat sempurna dan lucu sekali.
Silahkan anda menyimak satu persatu foto2 keluarga tersebut tentu saya melihatnya dengan hati sangat haru.

Kamis, 15 Januari 2009

Women are Amazing...Thx God...

Ketika Tuhan menciptakan wanita, DIA lembur pada hari ke-enam.

Malaikat datang dan bertanya,Mengapa begitu lama, Tuhan?

Tuhan menjawab: Sudahkan engkau lihat semua detail yang saya buat untuk menciptakan mereka?. 2 Tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukan dari plastik. Setidaknya terdiri dari 200 bagian yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan. Mampu menjaga banyak anak saat yang bersamaan. Punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua dilakukannya cukup dengan dua tangan ini.

Malaikat itu takjub. Hanya dengan dua tangan?. . . . impossible !! "Dan itu model standard?! Sudahlah TUHAN, cukup dulu untuk hari ini, besok kita lanjutkan lagi untuk menyempurnakannya.

Oh.. Tidak, SAYA akan menyelesaikan ciptaan ini, karena ini adalah ciptaan favorit SAYAĆ¢€. O yah Dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri, dan bisa bekerja 18 jam sehari.

Malaikat mendekat dan mengamati bentuk wanita - ciptaan TUHAN itu. Tapi ENGKAU membuatnya begitu lembut TUHAN ?

Yah.. SAYA membuatnya lembut. Tapi ENGKAU belum bisa bayangkan kekuatan yang SAYA berikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa.

Dia bisa berpikir?, tanya malaikat.

Tuhan menjawab: Tidak hanya berpikir, dia mampu bernegosiasi."

Malaikat itu menyentuh dagunya.... TUHAN, ENGKAU buat ciptaan ini kelihatan lelah & rapuh! Seolah terlalu banyak beban baginya.

Itu bukan lelah atau rapuh . . . .. itu air mata, koreksi TUHAN

Untuk apa?, tanya malaikat

TUHAN melanjutkan: Air mata adalah salah satu cara dia mengekspressikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan dan kebanggaan.

Luar biasa, ENGKAU jenius TUHAN kata malaikat. ENGKAU memikirkan segala sesuatunya, wanita - ciptaanMU ini akan sungguh menakjubkan!"

"Ya mestii . . . !
Wanita ini akan mempunyai kekuatan mempesona laki-laki.
Dia dapat mengatasi beban bahkan melebihi laki-laki.
Dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri.
Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.
Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan.
Dia berkorban demi orang yang dicintainya.
Mampu berdiri melawan ketidakadilan.
Dia tidak menolak kalau melihat yang lebih baik.
Dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya.
Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat.
Cintanya tanpa syarat.
Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang.
Dia girang dan bersorak saat melihat kawannya tertawa .
Dia begitu bahagia mendengar kelahiran.
Hatinya begitu sedih mendengar berita sakit dan kematian. Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup.
Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka."

"Hanya ada satu hal yang kurang dari wanita:

Dia lupa betapa berharganya dia... "

An Atheist Story

Seorang atheis sedang berjalan di tengah hutan.

"Wah! Sungguh indah pohon-pohon, sungai dan binatang-binatang di sini!" katanya sambil menikmati pemandangan di sekelilingnya.

Saat sedang berjalan dipinggiran sungai, tiba-tiba ia mendengar suara dari balik semak. Seekor beruang besar setinggi 2 meter muncul menyerangnya!

Dia berusaha lari, tapi malah tersandung dan tersungkur ke tanah. Pada waktu ia berusaha untuk bangun, ia melihat beruang itu sudah tepat diatasnya, dengan cakarnya yang sudah siap merobek-robek.

Si atheis kontan menjerit: "Oh Tuhaaannn!!! "

Dan mendadak waktu berhenti. Beruang itu menjadi diam, aliran sungai terhenti dan seisi hutan menjadi sepi. Seberkas sinar muncul menerpa, dan suara dari langit terdengar.

Suara: "Selama ini kamu menentangKu, menghasut semua orang bahwa Aku ini tidak ada, serta menyangkal semua ciptaanKu. Berani-beraninya kamu menyebut namaKu untuk minta tolong! Haruskah Aku menolong kamu?"

Atheis: "Mungkin terlalu munafik dan tidak adil bagiMu Tuhan, jika saya mendadak memintaMu untuk menganggap saya orang beriman dan langsung menolongku, tapi sudikah Kau menjadikan beruang ini beriman kepadaMu?"

Suara: "Baiklah."

Sinar surgawi itu pun lenyap dan seketika itu juga semua kembali seperti semula. Beruang itu masih berdiri di depan si atheis, namun tidak jadi menyerangnya, malah melipat kedua cakarnya, menundukkan kepalanya sambil berkata,

Beruang: "Ya Tuhan, berkatilah makanan yang sudah tersedia di depan saya ini... agar makanan ini menjadi kekuatan bagi saya untuk memuliakan namaMu,
amin ..."

News from Nazareth

telah ditemukan berkas, diduga raport Yesus waktu sekolah. Tertulis:

  • Agama : C --> Sapa yang ciptakan dunia? Ia jawab ,"BapaKu".
  • Olahraga : D --> Disuruh renang malah jalan di atas air.
  • Math : E --> Jumlah 2+5=5.000+12
  • Kimia : A --> Ubah air jadi anggur.
  • Ilmu ruang angkasa: A+ -->Naik ke sorga tanpa roket, tlh sediakan rumah untuk kita.

10 HUKUM CINTA

1. Jangan ada padamu cinta lain dihadapanku.
2. Jangan membuat bagimu cinta lain yang menyerupai apapun.
3. Jangan menyebut nama mantan pacarmu dihadapanku.
4. Ingatlah dan kuduskanlah malam minggu.
5. Hormatilah mertuamu supaya kamu diterima jadi menantu.
6. Jangan membunuh cinta yang ada padamu.
7. Jangan selingkuh.
8. Jangan mencuri cinta lain untuk dimiliki.
9. Jangan bersaksi dusta tentang pacarmu.
10. Jangan mengingini pacar sesamamu.

Ilustrasi: Kisah Seekor Belalang

Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain.

Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya. Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya, "Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh ?".

Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan, "Di manakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan".

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Renungan:

Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita tanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu? Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada nurani bahwa Anda bisa "melompat lebih tinggi dan lebih jauh" kalau Anda mau menyingkirkan "kotak" itu? Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini Anda anggap diluar batas kemampuan Anda?

Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami. Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai apapun yang Anda ingin capai. Sakit memang, lelah memang, tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar.

Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihan Anda. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untuk Anda. (Anonim)

Perumpamaan Jendral Shamila

Kata orang sih ini kisah nyata, tapi walau nyata atau ngga, yang jelas bagus. Jendral ini adalah pemimpin pasukan Rusia. Pada suatu hari barak tempat pasukannya berkumpul kecurian makanan! Jadi persediaan makanannya habis . Jendral Shamila ini marah
dan mengeluarkan peringatan, "Siapa yang ketahuan mencuri persediaan makanan.... harus dihukum cambuk 50 kali!!"

Pada suatu hari akhirnya pasukannya mendapatkan siapa yang mencuri persediaan makanan
dan orang itu adalah....... tereng...tereng..... ibunya jendral itu sendiri ini menjadi dilema sendiri bagi si jendral "kalo saya batalkan, saya akan di-cap sebagai jendral yang tidak adil"
"tapi kalo saya laksanakan, ibu saya akan mati karena sudah tua, dan saya akan di-cap sebagai jendral yang tidak punya belas kasihan".

Setelah pikir-pikir panjang akhirnya hukuman tetap dilaksanakan tapi.... jendral itu memerintahkan si pencambuk untuk mencambuk dirinya sendiri

Jadi hukuman harus tetap dilaksanakan tapi yang menanggung adalah jendral itu sendiri
begitu juga dengan Allah sebab upah dosa ialah maut. Karena Allah maha adil, hukuman tetap harus dijalankan yaitu maut, tapi karena Allah maha kasih. Allah sendiri lah yang menanggung hukumannya dengan mati di kayu salib, jadi kematian Yesus di kayu salib membuktikan kalo Allah itu Adil tapi juga Kasih.

As told by: Mikha Valerint

FoRgIvEnEsS



18:21Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
18:22Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
18:23Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
18:24Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
18:25Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
18:26Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
18:27Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
18:28Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
18:29Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
18:30Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
18:31Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
18:32Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
18:33Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
18:34Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
18:35Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

The love of a father

Diambil dari sebuah kisah nyata di Amerika Serikat, dan sebuah kisah
nyata dalam kehidupan kita.

Love suffers long and is kind; love does not envy; love does not parade
itself, is not puffed up; does not behave rudely, does not seek its
own, is not provoked, thinks no evil; does not rejoice in iniquity, but
rejoices in the truth; bears all things, believes all things, hopes all things,
endures all things..1 Corinthians 13:4-7 (NKJV)

Adalah seorang muda yang taat berdoa yang masih berpacaran dengan
seorang gadis muda juga yang baik hati. Kedua orang ini adalah dua
konglomerat kaya.

Sebelumnya mereka pun selalu berdoa, 'Tuhan berikanlah aku pasangan
yang menurut Engkau terbaik...' Setelah mereka menikah, keadaan
berubah. Maksudnya, doanya berubah menjadi, 'Tuhan, berikanlah kami
anak yang terbaik buat kami.' Tetapi setelah 7 tahun mereka menikah,
mereka tidak mempunyai anak.

Setelah mereka berdoa dan berdoa, akhirnya mereka mempunyai anak.

Dan keadaan berubah, maksudnya doa mereka berubah lagi, 'Tuhan,
biarlah anak ini menjadi anak yang terbaik bagi kami.' Dan benar,
setelah 9 bulan istrinya mengandung,lalu lahirlah seorang anak bagi
mereka. 'Anak laki-laki pak,' kata dokternya. Sang ayah langsung
melonjak kegirangan.

Tetapi setelah 3 hari, sang dokter memanggil si ayah ke rumah sakit.
Lalu si dokter berkata, 'Pak, dengan berat hati saya harus
menyampaikan kabar buruk kepada anda.' Si ayah membalas, 'Kabar
apapun, saya siap menerimanya, pak dokter. Saya siap menghadapi yang
terburuk' 'Dan hal yang buruk itu adalah, bahwa putra anda tidak akan
bertumbuh dengan normal seperti anak-anak yang lain,' jelas si dokter.
'Apa maksud bapak,' si ayah bertanya. Dokter melanjutkan, 'Putra anda
menderita sesuatu kecacatan yang tidak dapat disembuhkan. Yaitu cacat
mental yang serius.' Sang ayah lalu menitikan air mata dan berkata
sambil berdoa, 'Tuhan, apapun yang Engkau berikan kepadaku, aku tahu
semuanya baik dan Engkau tidak pernah mencelakakan anak-anakMu. '

But above all these things put on love, which is the bondof perfection.

Colossians 3:14 (NKJV)

Sejak itu, kedua orang tua itu membeli ranjang bayi khusus anak
mereka dan ditaruh di samping ranjang mereka berdua. Mereka selalu
kesulitan untuk mengurus anak mereka tersebut,tetapi mereka menanggung
semuanya itu.

Beranjak keluar dari umur balita, mereka membuatkan kamar khusus untuk
anak mereka tersebut. Anak itu menjadi anak yang sangat istimewa dan
menjadi anak mereka satu-satunya. Mereka memberikannya segala yang dia
mau dan dia perlukan. Mainan macam-macam, komputer, boneka, dan
lain-lain. Dan jika si ayah selesai pulang kerja, ia selalu mengajak
si anak bermain. Dengan mainan yang ada atau jika ayahnya membawa
mainan yang baru untuk anaknya.

Setiap ayahnya pergi keluar misalkan untuk berpesta dengan rekan
kerjanya atau teman-temannya yang sedang berbahagia, ia selalu membawa
serta istri dan anaknya. Dan di depan rekan-rekan kerjanya atau
teman-temannya, ia selalu membanggakan anaknya. 'Woi anak gw
nih…ganteng kan ?' Selalu ia mengatakan demikian, karena ia tahu,
anaknya ini adalah anugerah Allah yang terbesar dalam dirinya.. Dan ia
sangat mengasihi anak ini, karena ini anaknya. Meskipun dia cacat.

Tetapi setelah anak itu bertumbuh makin dewasa, kecacatannya semakin

kelihatan. Kemampuan komunikasinya kurang, jika terjemur matahari
sebentar mulutnya akan keluar busa, dan jika sedang berbicara kadang
air liurnya menetes. Tetapi meskipun begitu, kedua orang tua tetap
sangat sangat menyayangi anak mereka yang cacat itu.

Suatu hari, pagi-pagi sekali anak cacat ini sudah bangun, sekitar pukul

4.30. Dalam pikirannya, 'Hari ini, aku pengen buat sarapan yang
speeeeeesial buat papa.' Setelah doa pagi, ia pergi menuju dapur. Ia
mengambil potong roti, lalu menaruhnya dalam oven, dan menyetel
waktunya sampai 10 menit.

Tentu saja hasilnya gosong. Setelah bunyi 'ting', maka anak cacat itu

menaruhnya di atas sebuah piring. Lalu ia mengoleskan selai kacang
keju yang (amat) sangat banyak, sambil berpikir, 'Harus kasih yang
baaaaanyak buat papa, biar ueeeeenak rasanya'.

Setelah itu, ia berlari ke kulkas, lalu mengambil sebutir telur. Dan lalu

memanaskan panci di atas kompor, lalu memecahkan telur tersebut dan

menuangkan isinya ke dalam panci tersebut, dan langsung menaruhnya di
atas piring yang lain, sambil berpikir, 'Kalo aku buatnya cepet, pasti
papa

seneng, karena gak perlu nunggu lama.' Dan lalu ia bergegas mengambil

cangkir, dan mengambil toples kopi bubuk. Jika kita hanya membutuhkan
2 sendok teh, anak cacat ini memakai 5 sendok teh kopi bubuk, sambil
berpikir,

'Kalau 2 sendok the saja sudah harum, apalagi 5, pasti papa suka.' Jadilah

kopi yang terasa seperti kopi tua itu. Lalu si anak cacat ini mengambil

nampan, lalu dengan hati-hati tanpa menimbulkan bunyi macam-macam,
menaruh semua piring yang di atasnya ada roti gosong dan telur mentah
dan cangkir kopi tua tersebut, dan menuju kamar ayahnya. Lalu ia
membangunkan ayahnya, dan lalu berkata begini, 'Papa, bangun dong,
aku udah buat sarapan yang spesiaaaaaaaal buat papa.' Lalu ayahnya
bangun dan melihat dan menghirup aroma 'sedap' dari roti gosong, telur
mentah dan kopi tua tersebut. 'Wah pasti enak nih.'

Sebelum si ayah melipat tangannya untuk berdoa, si anak berkata, 'Pa,
kali ini aku doain makanan ini buat papa ya, ' kan biasanya papa yang
doain. OK ya papa?' Sebelum ayahnya sempat mengangguk, si anak cacat
ini sudah melanjutkan, 'Papa ikutin ya: Tuhan Yesus, terima kasih,
atas makanan ini, yang telah Tuhan sediakan. Terima kasih Tuhan, amin.'

Lalu ayahnya mecoba roti gosong tersebut, dan setelah ayahnya
mengunyah gigitan pertama, si anak cacat dengan polosnya bertanya,
'Enak kan pa?'

'Iya, enaaaak sekali,' lalu melanjutkan makan. Setelah roti tersebut
habis,

ia memakan telur mentah tersebut. Dan si anak bertanya, 'Telurnya enak
kan pa? Aku yang masak semuanya loooo….' Si ayah berkata, 'Wah kamu
yang masak? Enak sekali nak.' Lalu si ayah melanjutkan memakan telur
mentah tersebut. Setelah semua makanan habis, ia mecoba kopi tua itu.
Si anak bertanya lagi,

'Harum dan enak kan pa?' Si ayah tanpa expresi mual apapun,
membalasnya, 'Pahit, tapi papa suka sekali.' Dan dengan lugunya si
anak menjawab, 'Ya iya dong papa, kopi kan pahit…,' karena ia mengira
ayahnya sedang bercanda.

Setelah semuanya habis, si ayah membelai kepala anaknya dan berkata
'Ray, kamu tau nggak…'

'Nggak paa,' potong si anak cacat tersebut. Lalu si ayah melanjutkan,
'Kalau semua masakan kamu, enaaaaak sekali.' Lalu si anak menjawab,
'Iya dong pa, kan aku yang masakin, spesiaaaaaal buat papa.' Lalu si
ayah berkata lagi,

'Kamu tahu nggak kenapa papa senang hari ini?' Si anak sambil
menggelengkan kepala, 'Nggak tau pa….' 'Karena hari ini kamu dah buat
sarapan yang, spesiaaaaal buat papa.' Lalu si ayah melanjutkan, 'Ray,
kamu tahu gak kenapa papa sayaaaaaaang sekali sama kamu?' Lalu dengan
lugunya anak cacat ini menjawab, 'Nggak tahu pa…..' 'Karena kamu anak
papa yang udah bikin papa, seneeeeeeeeeeeng banget.' 'Raymond juga,
sayaaaaaaaaaang banget sama papa.'

Lalu sambil menitikan air mata, ia memeluk anaknya yang cacat itu, dan

berkata kepada anaknya, 'Terima kasih ya nak, karena telah memasakan
sarapan roti, telur, dan kopi ini buat papa. Semuanya terasa, enaaaaak
sekali.' Lalu si anak menjawab, 'Sama-sama papaah….' Dan si ayah lalu
berdoa dalam hatinya, 'Tuhan terima kasih, karena Engkau sudah
memberikan anak yang sangat sayang padaku…'

Anda tahu, siapakah anak cacat dan ayah tersebut?

Kamulah, yang sedang membaca adalah anak yang cacat tersebut.. Seperti
anak cacat itu memberikan kepada ayahnya, roti gosong, telur mentah
dan kopi tua, juga kita, memberikan apa yang tidak sempurna dari kita
untuk Tuhan. Roti gosong, telur mentah dan kopi tua, yang merupakan
apa yang tidak sempurna dari kita misalnya, pujian, dan kehidupan
kita, Tuhan terima semuanya dengan senang hati, karena Tuhan tahu,
bahwa kita melakukannya dengan segenap hati kita yang tertuju pada
Bapa di sorga, dan kita ingin melakukan yang terbaik untuk Bapa kita
di sorga.

Ingat ini: Bapamu di sorga menyayangimu, apa adamu, apa yang ada
padamu, apapun yang engkau berikan dengan segenap hatimu, merupakan
sebuah persembahan yang harum. Karena Bapamu mengasihi kamu,
sampai-sampai Ia sendiri mengirimkan Anak-Nya untuk turun ke dunia,
untuk menebuskan dan mematahkan segala kutuk atas diri kita, dan untuk
membayar lunas segala hutang dosa kita dan menebus dosa kita dari maut..

Ingat : Bapamu di sorga mengasihimu.

You are all fair, my love, and there is no spot in you.

Song of Solomon 4:7 (NKJV)

Tuhan Memberkati

Benny Agustinus

[GKJnet] patut dibaca: tentang ISRAEL

BEBERAPA CATATAN DARI ISRAEL

(Oleh : Luthfi Assyaukani - Paramadina Mulia Jakarta)

Saya baru saja melakukan perjalanan ke Israel. Banyak hal berkesan yang
saya dapatkan dari negeri itu, dari soal Kota Tua yang kecil namun penuh
memori konflik dan darah, Tel Aviv yang cantik dan eksotis, hingga
keramahan orang-orang Israel. Saya kira, siapapun yang menjalani
pengalaman seperti saya akan mengubah pandangannya tentang Israel dan
orang-orangnya.

Ketika transit di Singapore, seorang diplomat Israel mengatakan kepada
saya bahwa orang-orang Israel senang informalities dan cenderung rileks
dalam bergaul. Saya tak terlalu percaya dengan promosinya itu, karena
yang muncul di benak saya adalah tank-tank Israel yang melindas
anak-anak Palestina (seperti kerap ditayangkan oleh CNN and Aljazira).
Tapi, sial, ucapan diplomat itu benar belaka. Dia bukan sedang
berpromosi. Puluhan orang yang saya jumpai dari sekitar 15 lembaga yang
berbeda menunjukkan bahwa orang-orang Israel memang senang dengan
informalities dan cenderung bersahabat.

Saya masih ingat dalam sebuah dinner, seorang rabbi mengeluarkan
joke-joke terbaiknya tentang kegilaan orang Yahudi. Dia mengaku
mengoleksi beberapa joke tapi kalah jauh dibandingkan Gus Dur yang
katanya "more jewish than me." Dalam jamuan lunch, seorang diplomat
Israel berperilaku serupa, membuka hidangan dengan cerita jenaka tentang
persaingan orang Yahudi dan orang Cina.

Tentu saja, informalities adalah satu bagian saja dari cerita tentang
Israel. Pada satu sisi, manusia di negeri ini tak jauh beda dengan
tetangganya yang Arab: hangat, humorous, dan bersahabat. Atau semua
budaya Mediteranian memang seperti itu? Tapi, pada sisi lain, dan ini
yang membedakannya dari orang-orang Arab: kecerdasan orang-orang Israel
di atas rata-rata manusia. Ini bukan sekadar mitos yang biasa kita
dengar. Setiap 2 orang Israel yang saya jumpai, ada 3 yang cerdas.
Mungkin ini yang menjelaskan kenapa bangsa Arab yang berlipat jumlahnya
itu tak pernah bisa menandingi Israel.

Kecerdasan itu seperti kecantikan. Ia memancar dengan sendirinya ketika
kita bergaul dengan seseorang. Tidak yang laki-laki, tidak yang
perempuan, semua orang Israel yang saya ajak bicara memancarkan kesan
itu. Patutlah bahwa sebagian peraih nobel dan ilmuwan sosial besar
adalah orang-orang Yahudi.

Yang membuat saya terkesima adalah bahwa orang-orang Israel, paling
tidak para pejabat, pemikir, budayawan, diplomat, penulis, dan
profesional, yang saya jumpai, semuanya lancar dan fasih berbahasa Arab.
Mereka senang sekali mengetahui bahwa saya bisa berbahasa Arab.
Berbahasa Arab semakin membuat kami merasa akrab. Belakangan baru saya
ketahui bahwa bahasa Arab adalah bahasa formal/resmi Israel. Orang
Israel boleh menggunakan dua bahasa, Ibrani dan Arab, di parlemen, ruang
pengadilan, dan tempat-tempat resmi lainnya.

Kebijakan resmi pemerintah Israel ini tentu saja sangat cerdas, bukan
sekadar mengakomodir 20 persen warga Arab yang bermukim di Israel.
Dengan menguasai bahasa Arab, orang-orang Israel telah memecah sebuah
barrier untuk menguasai orang-orang Arab. Sebaliknya, orang-orang Arab
tak mengerti apa yang sedang dibicarakan di Israel, karena bahasa Ibrani
adalah bahasa asing yang bukan hanya tak dipelajari, tapi juga dibenci
dan dimusuhi. Orang-orang Israel bisa bebas menikmati televisi, radio,
dan surat kabar dari Arab (semua informasi yang disampaikan dalam bahasa
Arab), sementara tidak demikian dengan bangsa Arab.

Bahwa Israel adalah orang-orang yang serius dan keras, benar, jika kita
melihatnya di airport dan kantor imigrasi. Mereka memang harus melakukan
tugasnya dengan benar. Di tempat2 strategis seperti itu, mereka memang
harus serius dan tegas, kalau tidak bagaimana jadinya negeri mereka,
yang diincar dari delapan penjuru angin oleh musuh-musuhnya.

Saya sangat bisa memahami ketegasan mereka di airport dan kantor2
imigrasi (termasuk kedubes dan urusan visa). Israel dibangun dari
sepotong tanah yang tandus. Setelah 60 tahun merdeka, negeri ini menjadi
sebuah surga di Timur Tengah. Lihatlah Tel Aviv, jalan-jalannya seperti
avenues di New York atau Sydney. Sepanjang pantainya mengingatkan saya
pada Seattle atau Queensland. Sistem irigasi Israel adalah yang terbaik
di dunia, karena mampu menyuplai jumlah air yang terbatas ke ribuan
hektar taman dan pepohonan di sepanjang jalan.

Bangsa Israel akan membela setiap jengkal tanah mereka, bukan karena ada
memori holocaust yang membuat mereka terpacu untuk memiliki sebuah
negeri yang berdaulat, tapi karena mereka betul-betula bekerja keras
menyulap ciptaan Tuhan yang kasar menjadi indah dan nyaman didiami.
Mereka tak akan mudah menyerahkan begitu saja sesuatu yang mereka bangun
dengan keringat dan darah. Setiap melihat keindahan di Israel, saya
teringat sajak Iqbal:

Engkau ciptakan gulita
Aku ciptakan pelita
Engkau ciptakan tanah
Aku ciptakan gerabah

Dalam Taurat disebutkan, Jacob (Ya'kub) adalah satu-satunya Nabi yang
berani menantang Tuhan untuk bergulat. Karena bergulat dengan Tuhan
itulah, nama Israel (Isra-EL, orang yang bergulat dengan Tuhan)
disematkan kepada Jacob. Di Tel Aviv, saya menyaksikan bahwa Israel
menang telak bergulat dengan Tuhan.

Orang-orang Israel akan membela setiap jengkal tanah yang mereka sulap
dari bumi yang tandus menjadi sepotong surga. Bahwa mereka punya alasan
historis untuk melakukan itu, itu adalah hal lain. Pembangunan bangsa,
seperti kata Benedict Anderson, tak banyak terkait dengan masa silam, ia
lebih banyak terkait dengan kesadaran untuk menyatukan sebuah komunitas.
Bangsa Yahudi, lewat doktrin Zionisme, telah melakukan itu dengan baik.

Melihat indahnya Tel Aviv, teman saya dari Singapore membisiki saya:
"orang-orang Arab itu mau enaknya saja. Mereka mau ambil itu Palestina,
setelah disulap jadi sorga oleh orang-orang Yahudi. Kenapa tak mereka
buat saja di negeri mereka sendiri surga seperti Tel Aviv ini?" Problem
besar orang-orang Arab, sejak 1948 adalah bahwa mereka tak bisa menerima
"two state solution," meski itu adalah satu-satunya pilihan yang
realistik sampai sekarang. Jika saja orang-orang Palestina dulu mau
menerima klausul itu, mungkin cerita Timur Tengah akan lain, mungkin tak
akan ada terorisme Islam seperti kita lihat sekarang, mungkin tak akan
ada 9/11, mungkin nasib umat Islam lebih baik. Bagi orang-orang Arab,
Palestina adalah satu, yang tak bisa dipisah-pisah. Bagi orang-orang
Israel, orang-orang Palestina tak tahu diri dan angkuh dalam kelemahan.

Sekarang saya mau cerita sedikit tentang Kota Tua Jerussalem, tentang
al-Aqsa, dan pengalaman saya berada di sana. Percaya atau tidak, Kota
Tua tidak seperti yang saya bayangkan. Ia hanyalah sekerat ladang yang
berada persis di tengah lembah. Ukurannya tak lebih dari pasar Tanah
Abang lama atau Terminal Pulo Gadung sebelum direnovasi. Tentu saja,
sepanjang sejarahnya, ada perluasan-perluasan yang membentuknya seperti
sekarang ini. Tapi, jangan bayangkan ia seperti Istanbul di Turki atau
Muenster di Jerman yang mini namun memancarkan keindahan dari kontur
tanahnya. Kota Tua Jerussalem hanyalah sebongkah tanah yang tak rata dan
sama sekali buruk, dari sisi manapun ia dilihat.

Sebelum menuruni tangga ke sana, saya sempat melihat Kota Tua dari atas
bukit. Heran seribu heran, mengapa tempat kecil yang sama sekali tak
menarik itu begitu besar gravitasinya, menjadi ajang persaingan dan
pertikaian ribuan tahun. Saya berandai-andai, jika tak ada Golgota, jika
tak ada Kuil Sulayman, dan jika tak ada Qubbah Sakhra, Kota Tua hanyalah
sebuah tempat kecil yang tak menarik. Berada di atas Kota Tua, saya
terbayang Musa, Yesus, Umar, Solahuddin al-Ayyubi, Richard the Lion
Heart, the Templer, dan para penziarah Eropa yang berbulan-bulan
menyabung nyawa hanya untuk menyaksikan makam, kuburan, dan salib-salib.
Agama memang tidak masuk akal.

Oleh Guide kami, saya diberitahu bahwa Kota Tua adalah bagian dari
Jerussalem Timur yang dikuasai Kerajaan Yordan sebelum perang 1967.
Setelah 1967, Kota Tua menjadi bagian dari Israel. "Dulu," katanya, "ada
tembok tinggi yang membelah Jerussalem Timur dan Jerussalem Barat.
Persis seperti Tembok Berlin. Namun, setelah 1967, Jerussalem menjadi
satu kembali." Yang membuat saya tertegun bukan cerita itu, tapi
pemandangan kontras beda antara Jerussalem Timur dan Jerussalem Barat
dilihat dari ketinggian. Jerussalem Timur gersang dan kerontang,
Jerussalem Barat hijau dan asri. Jerussalem Timur dihuni oleh sebagian
besar Arab-Muslim, sedangkan Jerussalem Barat oleh orang-orang Yahudi.

Saya protes kepada Guide itu, "Mengapa itu bisa terjadi, mengapa
pemerintah Israel membiarkan diskriminasi itu?" Dengan senyum sambil
melontarkan sepatah dua patah bahasa Arab, ibu cantik itu menjelaskan:
"ya akhi ya habibi, kedua neighborhood itu adalah milik privat, tak ada
urusannya dengan pemerintah. Beda orang-orang Yahudi dan Arab adalah,
yang pertama suka sekali menanam banyak jenis pohon di taman rumah
mereka, sedang yang kedua tidak. Itulah yang bisa kita pandang dari
sini, mengapa Jerussalem Barat hijau dan Jerussalem Timur gersang."
Dough! Saya jadi ingat Bernard Lewis: "What went wrong?"

Ada banyak pertanyaan "what went wrong" setiap kali saya menyusuri
tempat-tempat di Kota Tua. Guess what? Kota Tua dibagi kepada empat
perkampungan (quarter): Muslim, Yahudi, Kristen, dan Armenia. Pembagian
ini sudah ada sejak zaman Salahuddin al-Ayyubi. Menelusuri perkampungan
Yahudi sangat asri, penuh dengan kafe dan tempat-tempat nongkrong yang
cozy. Begitu juga kurang lebih dengan perkampungan Kristen dan Armenia.
Tibalah saya masuk ke perkampungan Muslim. Lorong-lorong di sepanjang
quarter itu tampak gelap, tak ada lampu, dan jemuran berhamburan di
mana-mana. Bau tak sedap terasa menusuk.

Jika pertokoan di quarter Kristen tertata rapi, di quarter Muslim,
tampak tak terurus. Ketika saya belanja di sana, saya hampir tertipu
soal pengembalian uang. Saya sadar, quarter Muslim bukan hanya kotor,
tapi pedagangnya juga punya hasrat menipu.

Namun, di antara pengalaman tak mengenakkan selama berada di
perkampungan Islam adalah pengalaman masuk ke pekarangan al-Aqsa (mereka
menyebutnya Haram al-Syarif). Ini adalah kebodohan umat Islam yang tak
tertanggulangi, yang berasal dari sebuah teologi abad kegelapan. You
know what? Saya dengan bebasnya bisa masuk ke sinagog, merayu tuhan di
tembok ratapan, dan keluar-masuk gereja, tanpa pertanyaan dan tak ada
penjagaan sama sekali.

Tapi begitu masuk wilayah Haram al-Syarif, dua penjaga berseragam
tentara Yordania dengan senjata otomatis, diapit seorang syeikh berbaju
Arab, menghadang, dan mengetes setiap penziarah yang akan masuk.
Pertanyaan pertama yang mereka ajukan: "enta Muslim (apakah kamu
Muslim)?" Jika Anda jawab ya, ada pertanyaan kedua: "iqra al-fatihah
(tolong baca al-fatihah)." Kalau hafal Anda lulus, dan bisa masuk, kalau
tidak jangan harap bisa masuk.

Saya ingin meledak menghadapi mereka. Saya langsung nyerocos saja dengan
bahasa Arab, yang membuat mereka tersenyum, "kaffi, kaffi, ba'rif enta
muslim (cukup, cukup, saya tahu Anda Muslim)." Saya ingin meledak
menyaksikan ini karena untuk kesekian kalinya kaum Muslim
mempertontonkan kedunguan mereka. Kota Tua adalah wilayah turisme dan
bukan sekadar soal agama. Para petinggi Yahudi dan Kristen rupanya
menyadari itu, dan karenanya mereka tak keberatan jika semua pengunjung,
tanpa kecuali, boleh mendatangi rumah-rumah suci mereka.

Tapi para petinggi Islam rupanya tetap saja bebal dan senang dengan rasa
superioritas mereka (yang sebetulnya juga tak ada gunanya). Akibat
screening yang begitu keras, hanya sedikit orang yang berminat masuk
Haram al-Syarif. Ketika saya shalat Maghrib di Aqsa, hanya ada dua saf,
itupun tak penuh. Menyedihkan sekali, padahal ukuran Aqsa dengan seluruh
latarnya termasuk Qubbat al-Shakhra sama besarnya dengan masjid Nabawi
di Madinah. Rumah tuhan ini begitu sepi dari pengunjung.

Tentu saja, alasan penjaga Aqsa itu adalah karena orang-orang non-Muslim
haram masuk wilayah mesjid. Bahkan orang yang mengaku Muslim tapi tak
pandai membaca al-Fatihah tak layak dianggap Muslim. Para penjaga itu
menganggap non-Muslim adalah najis yang tak boleh mendekati rumah Allah.

Saya tak bisa lagi berpikir. Sore itu, ingin saya kembali ke tembok
ratapan, protes kepada Tuhan, mengapa anak bontotnya begitu dimanja
dengan kebodohan yang tak masuk akal.



--
http://tegoeh.web.id
http://mgradio.org
Skype : teguh_whydi